Jul 01

Gak cuma sekali-dua kali kita mendengar berita tentang TKI kita yang diperlakukan semena-mena oleh warga negara asing. Gak usah jauh-jauh ke Timur Tengah sana, tetangga dekat kita tercinta, Malaysia juga melakukan hal yang sama. Mulai dari kasus Siti Hajar sampe yang baru aja gw saksikan di siaran berita. Yaitu rekaman video amatir tentang penganiayaan seorang TKI oleh aparat Malaysia, karena sang TKI malang tersebut berkelahi dengan seorang PREMAN. Catat: PREMAN! Bahkan kabarnya juga, sang preman itu sempat menusuk pemuda TKI ini dengan pisau. Tapi apa yang terjadi? ketika polisi datang yang ditangkap adalah si TKI, bukan preman yang berulah itu. Tidak hanya ditangkap, tapi polisi juga malah ikut-ikutan memukuli si TKI. Dan ada satu gambar dari rekaman video ini yang menurut gw sangat menyakitkan harga diri gw sebagai sesama orang Indonesia. Polisi menyeret dan melemparkan sang TKI ke dalam mobil dengan kasar, bagaikan melemparkan kantong sampah!

Ditengah masa kampanye presiden ini, gw sangat berharap salah satu dari mereka nantinya mampu mengembalikan wibawa bangsa ini, melindungi warga negaranya di negara asing. Dan pastinya mampu menunjukkan kepada mereka bahwa negara kita bukan negara yang lemah. Yang bisa seenaknya mereka injak-injak dan permainkan harga dirinya!

Semoga, semua insiden yang belakangan ini sering terjadi. Kasus kekerasan terhadap TKI, pelanggaran kedaulatan, dan pencaplokan wilayah NKRI oleh negara tetangga kita yang tercinta ini akan menjadi pembelajaran keras buat para pemimpin bangsa. Semoga, kedepannya nanti hal-hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Sehingga bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat. Negara yang dicintai dan dibanggakan oleh rakyatnya, dan bukan sekedar alat para penguasa untuk mencapai ambisi dan tujuan pribadi mereka. Semoga.

PS: Tulisan di atas yang gede-gede itu bukan disengaja. Kesalahan teknis…

Jun 08

Apa kabar teman-teman? Wow, udah lama banget ya gw gak mampir kesini. Hmm…sampe gw dicariin loh sama seseorang di Detik. Pa kabar, Mas?He3…mungkin beliau kangen sama gw? Mudah-mudahan iya. Dan mudah-mudahan juga banyak diantara temen-temen yang juga kangen sama gw. Amin…

Mungkin ada diantara temen-temen yang bertanya, kemana aja sih lo Riz? Gw bisa jawab, gak kemana-kemana. Secara fisik. Tapi yang namanya manusia, kadang susah untuk mengendalikan pikiran untuk tidak mengembara kemana-mana. Terutama ketika sedang menghadapi suatu masalah. Suka ngelantur deh tuh pikiran. Mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan. Nah, sepertinya ini yang belakangan kemarin sempet terjadi sama gw. Gw bisa dibilang lagi banyak merenung, kontemplasi, mencari jawaban atas suatu hal yang sedang terjadi ke gw. Dan gw bilang, hal yang sedang tejadi ini adalah salah. Jadi yang gw lakukan kemarin adalah berusaha mencari letak kesalahannya dimana. Berusaha mengenali sumber masalah yang sesungguhnya, dan kemudian mencari jalan keluar yang terbaik tentunya. Dan itu ternyata butuh waktu dan usaha yang gak mudah.

Alhamdulillah, sekarang menurut gw kondisinya sudah menjadi lebih baik. Memang masalah akan selalu tetap ada. Tapi sekarang gw berusaha untuk lebih bijak dalam menghadapinya. Intinya memang harus ikhlas, tapi usaha juga harus jalan terus. Gak bisa yang namanya gw hanya mengandalkan orang lain, atau berharap semuanya akan membaik dengan sendirinya, tapi gw gak ada usaha untuk introspeksi dan memperbaiki keadaan. Jadi intinya sekarang gw sedang berusaha, mencoba untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berharap nanti keadaannya juga menjadi labih baik sejalan dengan waktu dan usaha yang gw lakukan. Semangat!

Apr 11

Memang bener banget, kalo dari sebuah tulisan saja akan mampu mengundang begitu banyak opini yang berbeda-beda dari banyak orang. Tergantung dari interpretasi mereka masing-masing terhadap tulisan itu. Dari tulisan gw sebelumnya misalnya, banyak banget komen yang masuk. Dari yang menganggap bahwa gw sedang berkampanye, pernyataan setuju dan tidak setuju dengan apa yang gw sampaikan di tulisan gw, dan bahkan ada juga yang bilang kalo apa yang ada di tulisan gw itu sama persis dengan apa yang sedang dialaminya. Untuk temen-temen yang gw sebutkan terakhir tadi, gw cuma bisa bilang lakuin yang terbaik aja! Gak usah terpengaruh sama siapapun dan apa yang mereka bilang, bahkan sama tulisan gw yang mungkin buat sebagian orang lain gak ada penting-pentingnya sama sekali. Just be your self, that’s it!

Ehm! boleh kan kalo sekarang gw sekedar memberi respon atas komen-komen yang lainnya? Pertama, kalo dibilang gw berkampanye, gw mau berkampanye untuk apa dan siapa? Wong gw bukan caleg kok. Tertarik jadi caleg, sedikitpun juga nggak. Kampanye untuk mensukseskan Pemilu? Yah, sudahlah ya..udah banyak orang yang ngelakuin hal itu, rajin amat kalo gw sampe ikut-ikutan juga cuma biar dibilang sebagai orang yang intelek dan berwawasan kebangsaan yang luas. Kedua, menyikapi pendapat yang bilang bahwa kita harus ikhlas dalam melakukan apapun tanpa mengharapkan imbalan. Mohon maaf sebelumnya, tapi mensikapi sebuah keihklasan harus dilihat dahulu konteksnya dong. Emangnya ada yang mau bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati, tapi gak digaji dengan layak? Katakanlah, kalopun uang bukan jadi barometer standar kelayakan kualitas kerja, bukankah sedikit apresiasi atau pengakuan sudah cukup? Oke, pastinya ada dari temen-temen yang bilang, kok gw kasihan banget ya. Kerjaannya mengeluh terus, gak pernah dihargai sama orang lain atau emang gak pernah puas? Teman, mengeluh dan mengungkapkan ketidakpuasan kita dalam menilai sesuatu itu berbeda! Kita mau mengeluh sampe mulut berbusa pun, kalo pada akhirnya kita tetap  gak bisa menerima kenyataan atau melakukan apapun untuk mengubah keadaannya jadi lebih baik..ya percuma aja. Mending diem aja deh. Tapi gw gak bisa seperti itu. Seperti yang udah gw sampaikan di tulisan gw, kalopun gw memang harus marah atau kecewa, ya gw akan lakukan itu. Gw gak akan diam saja, dan bilang sama diri gw sendiri kalo semuanya baik-baik saja..padahal kenyataannya tidak seperti itu! Walaupun nanti kenyataannya tidak menjadi lebih baik setelah gw mengungkapkan perasaan gw, paling tidak gw udah jujur sama diri gw sendiri. Disitulah menurut gw esensi dan makna keikhlasan yang sesungguhnya. Ikhlas menjalani semuanya, karena gw udah belajar untuk mengenali dan menjadi diri gw sendiri yang seutuhnya. Tapi sekali lagi, itu kalo gw pribadi loh ya. Jadi kalo temen-temen ada yang punya prinsip yang berbeda, ya silahkan saja tetap dipegang teguh dijalani apa adanya…

Hidup rakyat! Hidup demokrasi! Ciptakan negara yang berketuhanan, berdaulat, adil, dan makmur untuk semua! ( See, kalopun  gw mau, sebenernya gw juga bisa kan bikin jargon politik? Pliss deh…)

Apr 06

Pernahkah lo ngerasa dilupain? atau gak dianggap atas apa yang udah lo lakukan. Padahal apa yang lo lakukan itu udah yang terbaik yang lo bisa. Paling tidak lo udah ngelakuin sesuatu yang positif dengan hasil yang positif, dan dalam prosesnya lo gak mengecewakan apalagi menyakiti orang lain? Gak enak banget kan. Apalagi begitu lo liat orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang lo lakuin, tetapi mereka mendapat apresiasi yang katakanlah lebih layak dari apa yang lo terima. Oke, kalo memang mereka melakukan hal yang jauh lebih baik, itu lain soal. Gw yakin, kalo ini yang terjadi sama lo, pasti akan ada perasaan kecewa atau cendrung menyalahkan bukan?  Menyalahkan mereka yang gak bisa menghargai lo, atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjadi cukup baik untuk dihargai. Dan pada akhirnya, disadari atau tidak akan muncul yang namanya pembandingan. Pembandingan antara diri kita, apa yang kita lakukan dan apa yang kita peroleh dengan yang dilakukan oleh orang lain. Dan apa yang mereka dapatkan sebagai imbalannya.

Salah gak sih? Kalo gw bilang manusiawi kok. Manusia dalam kasus apapun, di posisi apapun, selalu ingin diperlakukan dengan adil. Dan begitu ada ketidakadilan yang kita rasakan, pasti akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Bolehlah dikatakan sebagai koreksi diri, atau kontemplasi atau apapun itu namanya. Tapi apabila dari situ, kita tidak juga bisa menemukan jawaban ( kesalahan yang dilakukan ) atas ketidakadilan yang kita rasakan. Apalagi yang bisa dilakukan? Menuntut keadilan kepada pihak yang memperlakukan kita dengan tidak adil? Bisa. Tapi hasilnya belum tentu seperti yang diharapkan. Jadi harus siap-siap kecewa untuk yang kedua kalinya. Alternatif lainnya ya, bermuka manis sama mereka. Memelas, dengan harapan mereka kasihan sama kita dan memberikan secuil kue keadilan buat kita. Atau justru lupakan saja mereka, dan mencari jalan kita sendiri untuk tetap bertahan tanpa mengandalkan mereka sebagai penentu baik tidaknya apa yang kita lakukan dan sudah layak atau tidaknya kita untuk dihargai.

Ada yang bilang, selalu berpikir positif dan jauhi yang namanya pembandingan-pembandingan. Dari situ maka kita akan bisa melihat suatu kondisi dari sisi baiknya dan menemukan jalan keluar yang terbaik. Masak iya sih? Memangnya gampang ya untuk melakukan hal itu? Kok malah kedengerannya naif banget ya? Oke itu hak mereka, dan gw gak akan mempersalahkan pernyataan tersebut. Gw juga gak akan sok bijak. Tapi gw cuma bisa bilang kalo lo ngerasain kondisi yang gw jabarkan diawal tulisan gw tadi, pada akhirnya cuma lo yang tau mana yang terbaik. Tetap positif, menjauhi pembandingan dan terus memelihara optimisme untuk bertahan dan menuju sesuatu yang lebih baik . Atau menghadapi kenyataan. menelan pil pahit kekecewaan dalam usaha menuju kesembuhan dari sakit ketidakadilan yang sedang lo alami. Rasakan saja, nikmati ketidak adilan yang sedang terjadi. Kalo lo memang harus kecewa dan marah, itu lebih baik daripada menjadi gila sendiri. Nanti setelah proses itu lo lewati, pada akhirnya baru lo tentukan sikap. Jujur, ikuti kata hati. Karena yang berhak untuk menentukan nasib kita, adalah diri kita sendiri. Bukan siapapun.

Mar 30

Sebelumnya gw dan keluarga menyatakan turut berduka cita atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di seputar danau Situ Gintung. Semoga yang telah meninggalkan kita diterima di sisi Allah SWT, dan kerabat yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan ini. Amin. Ditengah keprihatinan yang sedang dialami oleh saudara-saudara kita ini, gw sangat terenyuh waktu melihat berita di televisi. Bukan hanya karena melihat bagaimana dahsyatnya kehancuran yang ditimbulkan dan bagaimana berdukanya orang-orang yang ditinggalkan secara tiba-tiba oleh sanak kerabatnya. Tapi juga karena begitu tingginya “atensi” masyarakat yang datang berbondong-bondong ke lokasi kejadian. Bukan, gw bukan berbicara tentang para petugas, sukarelawan, dan tim penyelamat yang jelas-jelas sedang sibuk bekerja untuk  menemukan korban yang masih hilang. Yang gw maksud adalah masyarakat umum yang sempat-sempatnya “meluangkan waktu” untuk sekedar datang dan melihat secara langsung lokasi terjadinya musibah ini. Dari yang sekedar melihat-lihat saja, sampe yang memotret dan berfoto-foto dengan alasan “dokumentasi untuk dikasih liat ke tetangga”. Memangnya yang dilihat di media masih kurang jelas ya? Lagian apa manfaatnya buat mereka? Maaf kalo saya sedikit menyinggung perasaan anda-anda sekalian. Tapi bukankah kalo kita tidak bisa ikut membantu secara langsung, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan bukan? misalnya memberikan sumbangan atau sekedar mengirimkan doa ketimbang datang berduyun-duyun dan akhirnya bukan tidak mungkin malah menimbulkan masalah baru, misalnya kemacetan di sekitar lokasi.

Apapun, itu adalah pilihan masing-masing individu dalam menyikapi sebuah tragedi. Gw atau siapapun juga gak berhak untuk mengatakan apa yang mereka lakukan itu secara mutlak adalah sesuatu yang salah. Faktanya adalah, dalam sebuah drama kehidupan akan selalu ada pelaku kisah dan akan selalu ada penonton yang hanya bisa sekadar menyaksikan dan menikmati kisah yang sedang terjadi. Apapun kisahnya. Tapi satu yang juga pasti, para penonton ini harus siap jika sewaktu-waktu mereka yang menjadi pelaku dan kisah-mungkin juga suatu tragedi-kehidupan mereka yang menjadi tontonan orang lain.

Mar 14

Lagi-lagi gw diwawancara oleh sebuah majalah yang berhubungan dengan keluarga, khususnya anak-anak. Hmm..memang sudah waktunya gw menunjukkan eksistensi gw sebagai seorang “family man” rupanya. He3…Kali ini gw diwawancara oleh majalah ANAKKU. Mungkin buat sebagian orang kurang familiar ya? Memang sih, kalo kata mbak wartawannya emang distribusi majalah ini sekarang ini masih terpusat di toko-toko buku besar. Jadi kalo di kios-kios majalah begitu jarang ditemui. Padahal dari isinya bagus loh, menurut gw artikel-artikelnya cukup praktis dan informatif mengulas seputar anak dan kesehatan anak. Loh, kok jadi promosi sih? Yah, sekedar opini singkat saja gak apa-apa kan?

Anyway, topik yang kemarin dibahas dengan gw adalah seputar kesehatan anak. Terutama tentang bagaimana gw dan istri menjaga kesehatan anak, dan bagaimana pola pengasuhan kita berdua terhadap anak secara umum. Kemarin kita banyak membahas juga tentang bagaimana cara gw mendidik anak untuk lebih mandiri dan berani, dalam hal ini dengan cara membiasakan dia untuk tidur terpisah dari orang tuanya. Dan sejauh ini, bisa dibilang hasilnya positif. Apalagi hal positif lain yang didapat adalah anak gw jam tidurnya sudah teratur sejak usianya baru memasuki bulan kedua kemarin. Topik lain yang kemarin sempet gw bahas juga yaitu tentang kebiasaan gw, untuk berkomunikasi secara “serius” dengan anak. Maksudnya, mulai mengajak bicara anak gw dengan hal-hal positif yang bukan sekedar becandaan dengan “bahasa bayi” aja. Misalnya, dengan mengajak berbicara tentang bagaimana dia harus  selalu menjadi anak yang berani, anak yang selalu percaya dan yakin pada diri sendiri. Dan juga hal-hal lain yang sekiranya bisa memotivasi dia untuk menjadi manusia yang baik. Karena gw yakin, walaupun anak seusia ini belum bisa merespon secara langsung, tapi sebenarnya dia sudah bisa menangkap pesan yang kita sampaikan. Yah, insyaallah dengan begini sekaligus mendidik anak gw menjadi anak yang komunikatif sejak dini. Amin…

Kurang lebih seperti itulah sedikit gambaran tentang gimana gw dan istri mendidik anak. Masih banyak sih hal-hal lainnya, tapi mungkin akan gw bahas lain waktu aja ya. Tapi kalo mungkin ada yang pengen tahu sedikit banyak dari hasil wawancara gw dengan majalah ANAKKU tadi, silahkan tunggu tanggal terbitnya. Gw juga belum tau kapan juga sih, tapi nanti gw kabari ya kalo gw udah dapet kabar. Wassalam…

Mar 07

Pengumuman! Majalah Ayahbunda yang ada gw dan anak gw udah terbit loh. Jadi buat temen-temen yang penasaran atau sekedar pengen tahu tentang cerita seputar gw dan anak gw, silahkan cari di tukang majalah terdekat. He3…Untuk sekedar bocoran, fotonya bagus loh. Anak gw terlihat sangat menggemaskan, sedangkan kalo  gw terlihat…kebapakan.He3…aura tidak bisa berbohong rupanya.

Terus sekedar informasi juga, acara Roadshow 9Management di Bandung tanggal 28 Februari kemarin alhamdulillah berlangsung sukses. Animo masyarakatnya asik banget, dan setia nungguin acara sampe kelar. Karena penampilan band-band yang manggung kemarin asik-asik juga kali ya. Walaupun sebenernya gw sempet “demam panggung”. Mungkin karena udah lama gak tampil di acara seperti ini, jadi grogi euy…Anyway, makasih buat temen-temen di Bandung yang udah sempet dateng dan liat acaranya. Makasih buat dukungannya ya. Dan buat temen-temen di kota lain, doakan saja kita bisa bikin acara di kota kalian dan kita bisa seneng-seneng bareng. Oke2…

Feb 26

Guys, sekedar info plus sedikit berpromosi nih. Boleh donk? Sabtu besok, tanggal 28 Februari 2009 manajemen gw, 9 MANAGEMENT  akan mengadakan roadshow di kota Bandung. Lokasinya di Ciwalk, dan acaranya akan dimulai pada pukul 16.00 WIB. Acara ini akan menghadirkan Ringgo Agus Rahman, Christian Sugiono, Dennis Adishwara, Baim Wong, Arif Rahman, Temmy Rahadi, Mario Irwinsyah, dan pastinya gw sendiri. Acara ini akan dipandu oleh Panda, Vecky, VJ Yani, dan Mitha. Serta akan dimeriahkan oleh penampilan dari Goodnight Electric, Vincent Vega, Nine Ball, Lyla, Sahara, dan Supersonik. Dan pastinya acara ini bebas biaya masuk alias gratis. Jadi buat temen-temen yang pengen ketemu sama kita dan mau seru-seruan bareng, silahkan dateng beramai-ramai. Kalo perlu sewa angkot atau bis kota sekalian, trus pada dateng deh, rame-rame bawa spanduk. Alah… emangnya mau nonton bola? He3…Oke, pokoknya sampe ketemu nanti n gw tunggu kehadirannya ya guys!

Feb 14

Sehubungan dengan tulisan gw sebelumnya tentang wawancara gw dengan majalah Ayahbunda dan kemungkinan gw dan anak gw menjadi cover majalah tersebut. Dengan ini, kami menyatakan bahwa kami ternyata bukan diperuntukkan menjadi cover melainkan hanya tampil dalam artikel majalah yang bersangkutan. Alah, sok kali bikin pernyataan resmi macam juru bicara kepresidenan saja. He3…Alasannya sih, karena anak gw masih terlalu kecil. Sedangkan untuk menjadi cover biasanya paling tidak si anak udah berumur enam bulan. Jadi ekspresi si anak udah lebih keluar, dan sekaligus lebih mudah untuk memancing dan mengarahkan ekspresi itu selama proses pemotretan. Begitu. Tapi gak apa-apa, yang penting kan kisah gw udah diliput. Jadi paling tidak, gw bisa berbagi kebahagiaan dan syukur-syukur berbagi pengalaman berharga dengan pembaca lainnya. Betul tidak? Dan rencananya artkel tentang gw dan anak gw ini akan masuk dalam Ayahbunda edisi ke-5. Terbit kira-kira bulan depan lah. Kalau tidak ada perubahan…

Ngomong-ngomong, gw lumayan gak menyangka melihat respon dari teman-teman tentang tulisan gw sebelumnya. Padahal bisa dibilang, tulisan gw kan cuma tulisan ringan. Maksudnya bukan sebuah esai politik, atau uraian wacana intelektual tentang pengembangan diri dan peningkatan kemampuan berpikir secara sistematis dan proporsional. Halah…! Maklum, udah lama banget gak bertapa karena sibuk banget ngurusin anak. So, belum dapet wangsit untuk nulis tulisan-tulisan yang serius atau paling tidak berbobot. He3…Tapi gimanapun gw tetep harus berterima kasih sama temen-temen semua atas respon yang sudah diberikan. Gw anggap itu semua sebagai perwujudan atas kerinduan temen-temen semua atas kehadiran gw di ranah perblogan tanah air kita ini. Garing. Tapi beneran, gw juga kangen banget nulis, kangen banget dengan segala komen, input,tips dan trik, bahkan promosi usaha dan jasa dari kalian semua, temen-temen sesama blogger. Pokoknya semua yang temen-temen sampaikan itu, akan selalu gw sambut dengan tangan terbuka. Makin garing…

Yo wis, pokoknya met malem mingguan. Met liburan akhir pekan, dan menikmati keindahan Jakarta dalam kemacetan. Dan gak lupa, buat yang merayakan Velentine’s Day…selamat ya! Semoga cinta akan selalu di hati kita semua tidak hanya hari ini saja, tapi setiap hari dan menyertai di setiap hembusan nafas kita di dunia ini. Ampuun…makin garing banget…Cabut…

Feb 09

Waduh, udah lama bener gak nulis. Sampe baru tau desain dashboardnya blogdetik udah berubah. Keliatan lebih canggih sih, bos! monochromatic  gitu. Gw suka ngeliatnya. Btw, alhamdulillah jumat kemarin gw baru aja menyelesaikan syuting FTV terbaru gw. Kali ini dengan Frame Ritz, judulnya Cinta Seorang Arjuna. Tapi Arjuna di cerita ini sangat berbeda dengan Arjuna yang di kisah Mahabharata itu. Boro-boro ganteng, tampangnya malah lebih mirip sama Buto Cakil dengan gaya rambut Ali Oncom. Itulah sebabnya, kehidupan percintaannya sangat memprihatinkan. Boro-boro untuk mencintai, orang-orang yang ngeliat dia aja pasti udah kabur duluan. Pokoknya memprihatinkan sekali hidupnya si Arjuna ini. Penasaran? makanya tunggu aja tanggal mainnya.

Ngomong-ngomong, besok gw mau wawancara sama majalah Ayahbunda. Alhamdulillah, lumayan  juga buat exposure gw, terutama di media cetak. Secara, belakangan ini gw udah jarang banget muncul di media. Temanya sih tentang peran gw sebagai seorang ayah pastinya. Dan rencananya, mereka juga mau motret anak gw juga. Wah, hebat bener ya anak gw ini. Baru umur tiga bulan udah masuk majalah. Ayahnya boro-boro, umur segitu paling masih asik nyusu. Apalagi kalo sampe jadi covernya, wah tambah kalah jauh deh nih ayah. He3..yah, insyaallah kelak Rayan akan jauh melebihi ayah ya, Nak? Ayah akan selalu doakan Rayan agar apapun yang kamu lakukan, akan selalu jadi yang terbaik.  Amin.

HANGgONo